Wednesday, February 3, 2016

Seorang Analis Kimia Maupun Chemist Tidak Boleh Berbicara Tentang Vaksin Karena Bukan Ahlinya, Benarkah?

The tittle of this post is one of my "bad" experiences hehe, but it doesn't matter for me. 
Penyataan senada itu pernah dikemukakan dan masih dikemukakannya sampai saat ini oleh seorang "tokoh" provaksin hardcore. Dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan: "Apakah anda ahli immunologi? Apakah anda dokter? Apakah anda ahli virologi? tapi engga nanya tentang virologi sih kayanya hhihi, yaudah lah kita jawab ajah : bukan.

(Yaudah kalau bukan ahlinya kamu gausah ngomong tentang vaksin dong, mungkin gitu intinya ya maksud beliau itu hhehe~ kan dalam agama juga kita harus bertanya kepada ahlinya, iya.)

Ayway, emangnya definisi ahli itu apa sih? Wajib dengan punya ijazah dan sertifikat? 
Padahal engga selalu mesti gitu loh.. 
Tau Jim Geovedi ga? Dia engga pernah sekolah di sekolah IT loh, tapi Jim Geovedi diakui dunia sebagai ahli IT, bahkan sejak 2012 pindah ke London dan mendirikan perusahaan jasa sistem keamanan teknologi informasi bersama rekannya.
Jadi, coba upgrade lagi frame pemahamannya tentang definisi "ahli" itu. Allright? :)

Tapi, yaudah, baiklah, iyya deh itu memang bukan bidang saya qo, dan saya juga tidak ada kepentingan apa-apa samasekali dalam hal itu, jadi saya fokus pada apa yang saya ketahui  dengan pasti dan saya alami, meskipun sedikit, dari sisi bidangku yang relevan dalam realitas dunia industri saat ini. Hopes beliau-beliau itu lebih open-minded dan lebih lembut dan dikurangin galaknya XP dan engga protes lagi dan engga bully aku lagi hhehe. Aamiin :) :) :)
Dalem banget ya XDD

Tapi aku engga akan menulis bahasan dari judul diatas, biarin ajah lah mereka punya kahayang, engga penting juga untuk klarifikasi balik, asateukudu saur maicih mah hehe..
Karena yang harus kita khawatirkan bukan buruknya reputasi kita di mata manusia, karena reputasi adalah apa yang mereka pikirkan tentang kita, bukan kenyataan tentang diri kita, namun yang harus kita khawatirkan adalah keburukan-keburukan yang ada pada diri kita. Karena itu yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah nanti.

OK fine, let's recap.. XD

Sebenarnya aku gak tertarik dan ga tahu menahu tentang pro kontra vaksinasi, bahwa ternyata sampai setajam ituh, dan qadarullah para pro vaksin-nya galak-galak banget.


Ohya bahkan aku ga tahu samasekali pro kontra itu ketika aku prakerin (praktek kerja industri) di pabrik BUMN satu-satunya di Indonesia yang memproduksi vaksin dan serum serta larutan biologis lainnya, yaitu PT. Bio Farma (Persero). 
Padahal aku prakerin di bagian ter-elit dan di jantung perusahaan besar tsb, yaitu di bagian QC (Quality Control) dimana di bagian tersebutlah pusatnya, dimana semua sampel yang diproduksi dari semua bagian (Bagian Vaksin Polio, Bagian Infus (sekarang udah ga ada), dan semua bagian produksi lainnya) yang telah lulus melalui proses In Process Control (IPC). jadi, pengujian final ada di bagian QC, sebelum produk dinyatakan lulus dimana sertifikat analisisnya dikeluarkan oleh bagian QA (Quality Assurance), setelah dinyatakan lulus baru produk bisa release ke bagian Pemasaran.
Aku juga prakerin di bagian IPC-nya. Jadi mulai dari pengujian in process sampai pengujian final.

Dalam Sistem Manajemen Mutu suatu perusahaan, suatu produk dalam prosesnya harus melalui pengujian-pengujian, mulai dari bahan baku, proses pencampuran, dan proses-proses lainnya bahkan sampai sudah dikemas mejadi produk jadi.
Jadi, Bahan Baku, Bahan Pengemas, Produk Setengah Jadi, Produk Jadi, instrumen yang digunakan, metode analisis yang dipakai, seluruhnya ada kontrol dan regulasinya dari badan-badan pengawas terkait. 
Jadi, beruntunglah kita, temen-temen yang sekolah di bidang Analis Kimia, atau kuliah jurusan Kimia, karena kita kebanyakan bekerja di jantungnya perusahaan, yaitu QC dan QA, maupun RnD.

Kalau bahasa sederhananya sih begini. Di toko-toko kita banyak dijual produk makanan, minuman, bahan pangan, dll dimana tercantum ingredientsnya, misalnya Protein 2 %, Lemak 0 %, dll. Nah, yang bertugas mengecek benar atau tidaknya ada sekian persentase kandungan ingredients tsb adalah para Analis Kimia di bagian IPC atau QC.

Kalau di apotik kita bisa membeli obat-obat dimana di label kemasannya tertera misalnya mengandung Paracetamol 10 mg, dll. Nah, itu juga para Analis QC-lah yang memeriksanya di Lab perusahaan Farmasi. Kemudian, selain itu juga bisa di Lab Matching Colour, meskipun kadang ada yang lebih spesifik yaitu kimia tekstil (soalnya aku pernah juga bagian mengecek kecocokan warna dengan kain di pabrik pembuatan pewarna tekstil). 

Sampai di perusahaan pembuatan senjatapun anak analis mangkal di Lab-nya, temen-temen sekolah aku banyak yang prakerin di PT. Pindad (Persero) dulu.
Di Lab rumahsakitpun, pemeriksaan darah, urie, dll bisa dilakukan oleh anak analis kimia namun sekarang lebih spesifik lagi analis kesehatan jurusannya. 
Nah, termasuk Bio Farma juga di Lab-nya lebih banyak Analis Kesehatan dibandingkan Analis Kimia, kalau researchernya kebanyakan jurusan Farmasi Apoteker, Biologi, dan Kimia, Dokter, Dokter Hewan, dll.

Sebagai analis, paling seneng kalau udah ngoperasiin alat-alat canggih dong, soalnya engga serumit alat-alat sederhana. Kebalik yah, hehe, begitulah, kalau alat-alat Laboratorium Kimia, semakin canggih alat semakin mempersimple prosedur pengujian, sedangkan semakin sederhana alat, semakin rumit dan lama waktu pengujian.
Alhamdulillah saya (saya adalah aku :P) udah ngalamin mengoperasikan alat-alat canggih, diantaranya saja adalah timbangan analitik yang sampai 6 angka di belakang koma, dan memakai sensor sentuhan untuk membuka kaca timbangannya.  Kalau instrument-nya sih dulu di Bio Farma dapet alat Particle Counter (untuk menguji jumlah partikel dalam larutan infus), Chloridmeter (menguji kadar ion Cl dalam infus), lupa lagi duhh udah lama banget sih, canggih-canggih pokonya. 
Kalau di Medion banyak banget juga instrumnet yang canggih dan branded, merek Shimadzu, Mettler Toledo, dll. Di Lab RnD nya bukan cuman HPLC loh, tapi sampe UPLC (Ultra Performance Liquid Chromatography).
Kalau Spectrofotometer UV-Vis sih udah lumayan canggih juga, soalnya ada loh Kampus Kimia yang Lab-nya cuman mampu beli Sepktrofotometer Spectronic, hhehe~ Iya karena mahal banget harganya. Instrument analisis emang mahal-mahal banget, ratusan juta sampai milyaran, komponen kecilnya ajah misalnya yaitu kuvet Silica yang tahan sinar UV saja duluu banget harganya 1 juta rupiah, sekarang mah mungkin udah berapa kali lipat harganya.

Duhh, panjang banget ya nulisnya malah kesana hhe.
Trus apa hubungannya dengan vaksin?

To be honest, kita sebaiknya memang engga 100 % yakin dengan efek terapeutik dari obat maupun vaksin, dan produk-produk lain. Mengapa? Karena bagaimanapun itu buatan manusia. Pasti tidak sesempurna ciptaan Allah Azza Wa Jalla.
Dalam riset itu mulai dari metode sampling, sampai penelitiannya ada sekian persentase yang mesti menyimpang namun diabaikan dalam ilmu science.
Misal, 0.001 % itu diabaikan. namun kenyataannya memang ada kan, tapi dalam bentuk traces.

Bukannya kita menanamkan ketidakpercayaan terhadap hasil uji di perusahaan-perusahaan, namun khusus untuk produk-produk yang pada prosesnya bersinggungan atau menggunakan bahan yang haram itulah yang saya tekankan untuk kita sikapi dengan hati-hati, lebih baik hindari, berhati-hatilah, karena itu lebih menyelamatkan kita.

Nah inilah yang kujadikan pegangan dalam mensikapi beberapa produk vaksin yang pada proses pembuatannya melibatkan enzim tripsin dari babi sebagai katalis, meskipun secara teori Kimia (aku banget kan Kimia :P) katalis itu fungsinya hanya mencepat reaksi, dan akan diperoleh kembali di akhir reaksinya, namun ada molekul yang terintegrasi secara struktur sebagai bagian produk hidrolisis.

Jadi, isitulah kehati-hatian kita dituntut. 

Memang di Bio Farma ada proses "pencucian" atau "penyaringan" yang sangat canggih dan ketat, dan kita percaya pada legitimasi pihak perusahaan dan lembaga terkait keputusan halal bersyaratnya, namun.. ala kulli haal, kembali lagi, sebagai seorang analis, terusterang saya lebih berat ke merasa keraguan, karena banyak faktor yang memang real dalam kenyataan di lapangan, dimana tidak ada kondisi ideal, sayangnya begitu. 
Dan itu berbeda kondisinya dengan dunia penelitian atau lembaga penelitian kampus yang serba ideal. Tapi kalau kamu udah terjun ke dunia industri, pasti kaget deh, karena iman dan ihsan kita diuji dan dipertaruhkan. 


Beberapa hal yang perlu kita perhatikan diantaranya :
1. Instrument yang digunakan untuk menyaring atau mencuci.
Secanggih apapun alat, pada spesifikasinya mesti ada penyimpangan, namun menurut statistik diabaikan.
2. Metode analisisnya meskipun valid, namun dalam status validpun sebenarnya ada penyimpangan namun pada range yang diabaikan sehingga dianggap valid.
3. Metode sampling, pada saat pengambilan sample produk setengah jadi dari vaksin ataupun produk jadinya itu, se-representatif apapun, mesti ada penyimpangan, tapi dalam persentase yang diabaikan.
4. Operator (human) pada saat pengujian, saat hasil uji tidak memenuhi spesifikasi sementara ada tekanan faktor lain misal kejar target, dll yang tidak bisa aku ceritakan di publik karena menyangkut masalah hukum legal. jika sang operator tidak amanah kemungkinan saat ada penyimpangan kecil dari spesifikasi yang ditetapkan dimanipulasi datanya supaya lulus.
5. Proses produksi keseharian dengan proses produksi saat ada audit dari BPOM, atau LPPOM MUI, atau WHO, dll, apakah benar-benar konsisten? Saya kira, teman-teman yang bekerja di bagian QA paham betul realita pahitnya ^_^ 

Jangan abaikan keempat faktor tsb wahai ikhwan akhwat fillah, yang sampai-sampai ada yang mengeluarkan kata-kata kasar dan memusuhi kami karena menolak vaksin  yang pada proses pembuatannya bersinggungan dengan tripsin babi, meskipun telah difatwa halal bersyarat oleh MUI.

Ohya, ada satu hal yang sampai saat ini tidak kumengerti, ada sebagian saudari muslimah ummahat yang sampai mengeluarkan kalimat tidak pantas dan tidak beradab saat diskusi-diskusi yang sebenarnya lebih pantas disebut jidal dan ghibah,  bahkan dipublish di status FB dan dibahas ramai-ramai seperti lalat mengerubuti bangkai, la haula wa la quwwata illa billaah.. 
Namun biarlah itu urusan beliau-beliau itu dengan Allah Azza Wa Jalla Yang Maha Melihat dan Maha Teliti Perhitungannya. Sebagai sesama muslim sudah kewajiban untuk menjaga kehormatan saudaranya seiman. Bukan mencari pembenaran dengan dalih boleh berghibah untuk membahas keburukan. Allahul Musta'an
Padahal untuk apa sih membela vaksin mati-matian? Vaksin yang hanya urusan mubah, perkara duniawi, khilafiyah dalam dunia kedokteran. 

Masih banyak yang belum kutulis, tapi udah kelamaan nulis hhee.. insya Allah dilanjutin lagi kapan-kapan. :)

NOTE : Setiap ada status FB di friendlist yang ikut share dan komen tentang Provak hardcore (postingan-postingan para provak hardcore yang menyalahkan antivaks tanpa bukti ilmiah) maka aku memutuskan untuk remove friend karena terusterang membaca pertentangan seperti itu memancing kita untuk ikut mendebat, jidal, dan ghibah, naudzubillah, makanya me-remove friends adalah lebih menyelamatkan, aku merasa waktuku sangat berharga, aku tidak ingin membuang-buangnya untuk sesuatu yang samasekali tidak bernilai ibadah dan tidak akan menambah beratnya timbangan pahalaku kelak di akhirat.
Lebih baik belajar bahasa Arab, dengerin kajian, atau nambah hapalan al-Quran.

Jadi, itu alasannya jika ada beberapa yang merasa kurang nyaman karena udah saya remove. :) :)






No comments:

Post a Comment