Monday, December 31, 2012

Tentang Cinta

Seandainya aku bisa mencinta, mungkin airmata tak akan bebas terjatuh
Seandainya aku bisa mencinta, mungkin orang yang menjadi wasilah kehadiranku ke dunia ini tidak akan memendam duka..
Seandainya aku bisa mencinta, mungkin tidak akan banyak hati-hati yang kasihnya terabaikan dan terbiar layu di luar pintu hatiku tanpa pernah bisa melaluinya setitikpun
Seandainya aku bisa mencinta, mungkin jalannya akan seperti jalan manusia lain pada kelazimannya
Seandainya aku bisa mencinta, mungkin tidak perlu aku melalui bukit duri yang harus dilampaui
Seandainya aku bisa mencinta, mungkin tidak akan seberat ini

Mungkin; mungkinnya hanya kemungkinan-kemungkinan yang membuka pintu keputus asaan dari syaitan. Qadarullaah wa ma syaa fa'al...

Aku tak mengerti cinta, meskipun seluruh manusia menjelaskannya kepadaku dengan bahasa hati.

Aku tidak berkuasa atas hatiku.
Tidak pernah.

Karena, detik per detik, hari per hari, kalimat-kalimat yang terucap, suka demi suka, duka demi duka, yang menimpa, semua yang terjadi adalah kehendak Allaah.

Ketetapan Allaah.


فَصَبْرٌ جَمِيلٌ 


Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku), seperti kalimat yang terucap dari Nabiyullah Ya'qub 'alayhis salam ketika menghadapi ujian yang teramat sangat berat.

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ

Aku percaya pada semua yang telah tertulis di atas sana.

Dan demi yang Dia sebut cinta, aku akan menunggu tiadanya menjadi ada, sebagaimana janji-Nya.

Jakarta, 31 December 2012
Ade Hasanah Al Fakir Ilallah





No comments:

Post a Comment