Thursday, March 24, 2016

Berinteraksi dengan Orang yang Keras Kepala


Written by Abu Al-Jauzaa

Al-Imam Ar-Raghiib Al-Asfahaaniy rahimahullah pernah memberikan deskripsi tentang bagaimana cara berinteraksi dengan orang yang keras kepala dan orang-orang yang suka mendebat sebagai berikut :
“Apabila kamu diuji dengan orang yang suka menghasut, orang yang suka berkelahi, dan orang yang suka menyerang dengan tujuan melawan ulama dan membantah orang awam, sebagaimana hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi :

مَنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ وَيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَيَصْرِفَ بِهِ وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ جَهَنَّمَ.

“Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk melawan ulama’, membantah orang awam, dan mencari perhatian manusia; maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam”.

Sebaiknya kamu berlari menghindarinya seperti kamu menghindar dari singa. Apabila kamu tidak dapat menemukan jalan untuk menghindarinya, maka kalahkanlah penolakannya terhadap kebenaran dengan penolakanmu terhadap kedustaan dengan berpedoman kepada firman Allah ta’ala yang berbunyi :

وَمَكَرْنَا مَكْرًا

“Dan Kami merencanakan makar (pula)” [QS. An-Naml : 50].

وَمَكَرَ اللَّهُ

“Dan Allah membalas tipu daya mereka itu” [QS. Ali-‘Imraan : 54].

قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ * اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ

Mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok." Allah akan (membalas) olok-olokan mereka” [QS. Al-baqarah : 14-15].

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka” [QS. Ash-Shaff : 5].

Bersikaplah tegas kepadanya ! Janganlah kamu bersikap lunak kepadanya dalam hal menyampaikan hikmah ! Sebaiknya kamu terangkan kepadanya kebenaran yang memang belum merasuk ke hatinya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيْهِ كَلْبٌ.

“Para malaikat itu tidakakan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjingnya”.

Ketahuilah bahwa setiap tanah itu pasti ada tanamannya, setiap bangunan itu pasti ada pondasinya, setiap kepala pasti berhak mendapatkan mahkota, dan setiap tabiat berhak mendapatkan penjelasan.

Dan apabila memang harus menjelaskan sesuatu kepadanya, maka cukuplah bagimu untuk memberikan penjelasan ala kadarnya. Karena ada pepatah yang mengatakan : “Sebagaimana daging buah itu diperbolehkan untuk lebah, dan buah tin disediakan untuk makanan ternak” ; maka inti sari hikmah itu sengaja disiapkan bagi orang-orang yang berakal dan kulitnya diberikan kepada binatang ternak. Sebagaimana orang yang hilang daya penciumannya tidak akan mencium harum semerbak, maka binatang keledai pun tidak akan mungkin dapat memahami penjelasan”.

[Adz-Dzari’ah ilaa Makaarimisy-Syari’ah, hal 129].

=====

Friday, March 18, 2016

Salaf dan Perdebatan



Di antara hal-hal yang diingkari oleh para ulama salaf adalah perdebatan, perselisihan, serta berbantah-bantahan dalam masalah halal dan haram. Perbuatan ini bukanlah merupakan kebiasaan para imam Islam (kalangan salaf). Ia hanyalah kebiasaan yang diada-adakan setelah mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh fuqahaa’ ‘Iraq dalam permasalahan khilafiyyah antara Syafi’iyyah dan Hanafiyyah. Mereka menulis buku-buku tentang khilaaf dan memperluas pembahasannya, serta memperpanjang perdebatan di dalamnya. Semua itu adalah muhdats yang tidak ada asalnya (dalam Islam). Akan tetapi hal itu telah menjadi bagian ilmu mereka hingga menyibukkan mereka dari ilmu yang bermanfaat.

Para ulama salaf telah mengingkari dan membantah kebiasaan perdebatan/berbantah-bantahan (yang dilakukan sebagian orang) melalui hadits marfu’ dalam kitab Sunan :

ما ضل قوم بعد هدى إلا أوتوا الجدل ثم قرأ (ما ضَرَبوهُ لَكَ إِلّا جَدَلاً بَل هُم قَومٌ خَصِمون)

“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mereka berjalan di atas petunjuk, kecuali setelah mereka terjatuh dalam perdebatan”. Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallammembaca ayat : “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3250, Ibnu Majah no. 48, Al-Haakim 2/447-448, Ahmad 5/252, dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir no. 8067; dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahiihul-Jaami’ no. 5633].

Berkata sebagian salaf :

إذا أراد الله بعبد شراً أغلق عنه باب العمل وفتح له باب الجدل

“Apabila Allah menginginkan seorang hamba dengan keburukan, maka Ia akan menutup pintu amal dan membuka pintu perdebatan baginya” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalamAl-Hilyah 8/361 dan Al-Khathiib dalam Iqtidlaaul-‘Ilmi hal. 80 dari perkataan Al-Khurkiy].

Maalik (bin Anas) berkata :

أدركت أهل هذه البلدة وإنهم ليكرهون هذا الإكثار الذي فيه الناس اليوم: يريد المسائل

“Aku telah menemui penduduk negeri ini (yaitu Madinah) dimana mereka membenci satu hal yang banyak dilakukan orang-orang di hari ini – yang beliau maksudkan adalah al-masaail (yaitu perdebatan masalah fiqh)” [Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Al-Faqih wal-Mutafaqqih 2/9].

Sering pula didapati beliau (Al-Imam Malik) mencela orang yang banyak bicara dan berfatwa. Beliau berkata :

يتكلم أحدهم كأنه جمل مغتلم يقول هو كذا هو كذا بهدر في كلامه

“Banyak di antara mereka yang berbicara seperti (bicaranya) onta. Ia menyatakan : ‘Hal ini begini dan begitu’ – dimana perkataannya itu tidak ada faedahnya”.

Malik juga tidak menyukai menjawab dalam banyak permasalahan, dimana beliau berkata :

قال اللَهُ عز وجل (وَيَسأَلونَكَ عَنِ الرّوحِ قُلِ الرّوحُ مِن أَمرِ رَبّي) فلم يأته في ذلك جواب

“Allah ‘azza wa jalla telah berfirman : ‘Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku’ (QS. Al-Israa’ : 85). Di situ Allah tidak memberikan jawaban (atas pertanyaan mereka)”.

Pernah dikatakan kepada Maalik : “Bolehkan seorang yang berilmu tentang sunnah berdebat dengan ilmunya itu ?”. Maka beliau menjawab :

لا ولكن يخبر بالسنة فان قبل منه وإلا سكت

“Tidak boleh. Namun yang mesti ia lakukan adalah menyampaikan sunnah. Jika diterima, maka itu baik; dan jika tidak, hendaklah ia diam”.

Maalik juga berkata :

المراء والجدال في العلم يذهب بنور العلم

“Perdebatan dan berbantah-bantahan dalam ilmu akan menghilangkan cahaya ilmu”.

المراء في العلم يُقسي القلب ويورث لضعن

“Berbantah-bantahan dalam masalah ilmu dapat menyebabkan kerasnya hati dan membuahkan kebencian”.

Friday, March 11, 2016

Penggunaan Gelatin Babi Tidak Bisa Didasarkan Pada Istihalah (An Islamic and Scientific Perspective on Istihalah)



Direktur LPPOM MUI Ir. Lukmanul Hakim, MSi berhasil mempertahankan disertasi doktornya dan memperoleh gelar Ph.D dari Islamic University of Europe (IUE), Rotterdam, Belanda, awal bulan ini.

Didampingi oleh promotor Prof. Sofyan Suari Siregar, guru besar yang sudah lama mengajar di IUE, Lukmanul Hakim mempertahankan disertasi berjudul An Islamic and Scientific Perspective on Istihalah dan lulus dengan predikat Cum Laude.
Dalam disertasi tersebut, Lukmanul Hakim menegaskan bahwa penggunaan gelatin babi tidak bisa didasarkan pada istihalah, yakni dibolehkannya bahan-bahan haram berubah menjadi halal karena dianggap telah terjadi perubahan zat. Pengertian “istihalah” yang dipakai oleh beberapa pihak, tidak bisa dijadikan landasan untuk menghalalkan sesuatu sesuai syariah,” tegas Lukmanul Hakim. Sebab bahan-bahan yang haram di sisi agama Islam akan tetap dianggap haram meskipun ia telah mengalami perubahan zat.
Pandangan Lukmanul Hakim ini seolah menjawab diskursus publik selama ini mengenai istihalah yang oleh beberapa kalangan dianggap legitimate secara syariah. Dasarnya adalah konferensi yang membahas masalah halal di Kuwait yang menyatakan bahwa gelatin hewan termasuk babi halal digunakan di dalam produk makanan karena gelatin dianggap sebagai produk istihalah.
Lukmanul Hakim tak sepandangan mengenai hal tersebut. Dengan pandangannya, yang dilandasi argumentasi ilmiah Lukmanul Hakim menyimpulkan bahwa gelatin bukanlah produk istihalah, sehingga hukumnya mengikuti hukum asalnya. Artinya, jika gelatinnya berasal dari babi maka hukumnya sama dengan babi, yaitu haram. Faham ini pun banyak diikuti oleh beberapa negara di Timur Tengah. Argumentasi itulah yang ia pertahankan, hingga Lukmanul Hakim meraih gelar philosophy of doctor (Ph.D).

Thursday, March 10, 2016

Tidak Boleh Ada Intifa' yaitu Pemanfaatan Unsur Haram dalam Sistem Jaminan Halal (Artikel dari Website Resmi Halal Majelis Ulama Indonesia)

Salah satu paragraf yang saya garisbawahi.

Tidak Boleh Ada Intifa’

Sebagai contoh, seperti pada proses produksi vaksin. Untuk pengembang-biakan master bakteri atau virus dipergunakan media enzim yang sebagian besarnya berasal dari enzim babi. Memang secara ilmiah, pada produk akhir, unsur babi yang diharamkan dalam Islam ini tidak lagi terdeteksi sama sekali. Namun para ulama telah sepakat, tidak boleh ada sama sekali proses intifa’ atau pemanfaatan unsur babi untuk bahan-bahan yang akan dipergunakan atau dikonsumsi oleh manusia.

Baca selengkapnya di : http://www.halalmui.org/newMUI/index.php/main/detil_page/8/2362

NOTE : Untuk para pembaca dan blogger yang ingin slide presentasi tentang Sistem Jaminan Halal yang disusun oleh Pak Dr. Lukmanul Hakim, M.Si (Direktur LPPOM MUI) silakan cantumkan alamat email di kolom comments. Insya Allah akan saya kirim dengan senang hati. ^-^


Tuesday, March 8, 2016

Forgive them who hurted you 💚💛❤️💙💜

Sebelum kita tertidur, sudahkah kita memaafkan orang-orang yang pernah menorehkan luka atau mendzalimi kita meskipun mereka tidak minta maaf dan bahkan masih melakukannya sampai saat ini?


Mari mencoba memaafkan wahai sahabat-sahabat.. sulit memang, tapi paksalah hatimu untuk memaafkan.. lupakan dan hapus dendam yang tersisa, berikan kesempatan kepada hatimu untuk hidup bahagia dengan melepaskan semuanya dari hatimu, hidup ini terlalu singkat.. sayang sekali kalau hanya dihabiskan dalam kebencian.

Teringat nasihat ustadz Nuzul Dzikry hafizhahullah dalam kajian beliau,, kalau dilihat dari kacamata akhirat, saat ada yang mendzalimi kita, siapakah yang rugi? Kita atau dia?

Saat kita didzalimi, di akhirat itu justru akan mengangkat derajat kita, menambah pahala kita, menghapus dosa kita, bahkan dosa kita ditransfer ke orang yang telah mendzalimi kita tsb.

Maka maafkan, dan fokuslah pada dosa-dosa kita sendiri. 

Karena dosa-dosa kitalah yang menjadi masalah sebenarnya bagi kita, saat kita bermaksiat maka sesungguhnya kita sedang membuat masalah dengan Allah subhanahu wa ta'ala, yang memiliki neraka, yang memiliki alam semesta, yang jika marah tidak ada yang bisa menandingiNya..

*justmylittlenote

About Dreams



Dalam perjalanan kehidupan ini, ada masanya kita mengukir mimpi-mimpi indah setinggi langit..

Namun akan tiba masanya, ketika kita serahkan semua impian itu kepada Yang Menciptakan dan Menguasai langit, bumi, dan seluruh isinya.

Karena tentang "yang terbaik" hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

When Allah closes doors in your life it's for your own protection, don't be impatient ..


Cara Allah mengajarkan kepada hamba-hambaNya teramat sangat indah, dan sangat telak. With His Very Own Way.

Cara Allah mengajarkan kepada hamba-hambaNya teramat sangat indah, dan sangat telak. With His Very Own Way.



Lihatlah, bagaimana Allah mengajarkan kepada Nabi Musa alaihis salam, sehingga beliau benar-benar memiliki hati yang bersih dari ujub setitikpun, dalam sebuah kisah yang luarbiasa, yang terdapat dalam surat yang insyaAllah selalu kita baca pada hari Jumat, yaitu surah Al Kahfi.
Terdapat pada ayat 60 sampai 82.

Bermula dari latarbelakang (asbabun nuzul/sebab-sebab turunnya) tersebut adalah sebagaimana disebutkan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab. Beliau mendengar Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya pada suatu hari, Nabi Musa berdiri di khalayak Bani Israil, lalu beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling berilmu?” jawab Nabi Musa, “Aku”, ketika ditanya, “Adakah orang yang lebih berilmu dari anda?”. Nabi Musa menjawab, “Tidak ada.” Lalu Allah menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, “Sesungguhnya, di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu dari kamu.” Lantas, Nabi Musa pun bertanya, “Ya, Allah dimanakah aku dapat menemuinya?” Allah berfiman, “Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan dalam keranjang. Sekiranya ikan itu hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu.”

Dalam kisah bergurunya Nabi Musa alaihis salam kepada Nabi Khidir alaihis salam, disana terjadi peristiwa-peristiwa yang benar-benar membuat Nabi Musa menyadari bahwa ia tidaklah lebih tau dibandingkan Nabi Khidir alaihis salam, padahal pada masa itu Nabi Musa adalah seorang yang paling 'alim, paling berilmu, seorang yang bahkan telah bercakap-cakap langsung dengan Rabb-nya Allah Azza wa Jalla, di gurun Sinai (Thursina).
Dan, Nabi Musa tetap rendah hati, bahkan berkali-kali meminta maaf kepada Nabi Khidir 'alaihis salam terhadap tindakan-tindakan Nabi Khidir yang membuatnya bertanya-tanya.
Masha Allah, what an amazing story!
Sebuah kisah yang mengajarkan kita tentang adab-adab sebagai penuntut ilmu, untuk senantiasa meluruskan niat, membersihkan hati dari segala kesombongan, ujub, riya dan noda-noda lainnya, merasa rendah di hadapan ilmu, bersabar dalam belajar dan menerima pengajaran.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua, aamiin.

*justmylittlenote
*written on Tuesday early morning
*a tribute to Ustadz Nuzul Dzikri, Lc hafizhahullahu (atas kisah pengajaran Nabi Musa alaihis salam dalam kajian beliau)